Surutnya Sungai Belayan Ganggu Angkutan Barang, Tangkapan Ikan Warga Justru Meningkat
Sejumlah masyarakat
terlihat sedang melakukan aktivitas memancing di sungai Belayan. (foto : dok.ist)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Surutnya Sungai Belayan, Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara (Kukar), mulai memengaruhi aktivitas angkutan barang, terutama perusahaan pertambangan yang menggunakan jalur tersebut untuk membawa hasil tambang.
Di sisi lain, warga
yang memanfaatkan sungai untuk menangkap ikan justru memperoleh hasil lebih
banyak.
Camat Kembang
Janggut, Suhartono mengatakan, perusahaan pertambangan menjadi pihak yang
paling merasakan dampak surutnya Sungai Belayan.
Kondisi itu terutama
berpengaruh terhadap mobilisasi hasil tambang maupun angkutan barang yang masih
menggunakan jalur sungai.
“Karena mereka
membawa hasil pertambangannya melalui Sungai Belayan. Nah, itu yang saat ini
memang merasakan dampaknya, terutama untuk mobilisasi angkutan barang, bahan
pokok, dan lainnya,” ujarnya saat di hubungi Poskotakaltimnews pada Jumat
(21/8/2026).
Meski demikian, ia
menyebut kondisi tersebut belum mengganggu pemenuhan kebutuhan masyarakat
secara signifikan.
Akses jalan darat
yang semakin baik membuat mobilisasi kebutuhan warga tidak lagi sepenuhnya
bergantung pada Sungai Belayan seperti 10 hingga 15 tahun lalu.
Perubahan kondisi
sungai justru dimanfaatkan sebagian warga untuk mencari ikan. Aktivitas
tersebut terlihat meningkat, terutama pada pagi hari ketika warga memasang
jaring di sejumlah titik.
Hasil tangkapan yang
diperoleh pun disebut lebih banyak dibandingkan biasanya.
Jika sebelumnya warga
rata-rata hanya memperoleh satu hingga dua kilogram ikan, kini hasilnya dapat
mencapai lima kilogram, bahkan delapan sampai 10 kilogram.
“Artinya, ada
kenaikan yang bisa sampai 100 persen dari biasanya,” ungkapnya.
Namun, kata dia,
aktivitas tersebut bukan berarti nelayan menjadi pekerjaan utama masyarakat
Kembang Janggut.
Ia menyebut sekitar
70 hingga 80 persen masyarakat menggantungkan mata pencaharian dari perkebunan
kelapa sawit.
“Dulunya memang
masyarakat di sini punya dasar sebagai nelayan. Dengan kondisi sungai yang
surut seperti ini, masih ada nelayan-nelayan yang mencari ikan, tetapi nelayan
yang berada di sekitar saja dan bukan sebagai profesi harian,” jelasnya.
Di tengah aktivitas
warga mencari ikan, ia mengingatkan potensi kemunculan buaya di Sungai Belayan.
“Secara umum biasanya
memang ada. Cuma mungkin dengan kondisi seperti ini, buaya masuk ke
sungai-sungai kecil atau berada di wilayah yang jauh dari permukiman,” kata
dia.
Karena itu, ia
meminta warga meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di sekitar sungai,
khususnya saat membawa anak-anak.
“Intinya untuk warga
masyarakat, setiap sore tetap hati-hati dan waspada. Perhatikan anak-anak
ataupun orang di sekitarnya. Karena keberadaan buaya memang ada, sehingga perlu
pengawasan langsung dari orang tua,” tegasnya.
Untuk kebutuhan air
bersih, ia memastikan sejauh ini masih terpenuhi. Masyarakat masih dapat
memanfaatkan sumber air yang tersedia.
Bahkan, air sungai
saat ini dinilai lebih jernih karena debit air dan aktivitas kapal berkurang.
“Kalau sekarang
aktivitas sungai, termasuk kapal-kapal, juga berkurang,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengatakan dampak kemarau
juga dirasakan sektor perikanan budidaya.
Sejumlah kegiatan
pembenihan di kolam terpaksa dihentikan sementara karena ketersediaan air tidak
mencukupi.
“Untuk para
pembudidaya ikan, memang ada beberapa kegiatan, terutama pembenihan di kolam,
yang untuk sementara istirahat karena kondisi air yang minim atau kering,”
ungkapnya.
Pembudidaya ikan di
keramba juga harus menyesuaikan aktivitas dengan volume air yang tersedia.
Salah satunya dengan mengurangi jumlah ikan yang ditebar.
Berbeda dengan
pembudidaya, kondisi nelayan tangkap di sejumlah wilayah justru menunjukkan
peningkatan produksi. Surutnya perairan membuat ikan berkumpul sehingga lebih
mudah ditangkap.
“Kemarau ini membuat
ikan berkumpul sehingga lebih mudah ditangkap. Permasalahannya, ketika ikan
banyak, harga justru menurun ini juga menjadi persoalan saat ini,” jelasnya.
Ia berharap kondisi cuaca ekstrem tidak berlangsung lama sehingga aktivitas pembudidaya maupun nelayan dapat kembali berjalan normal.
“Kita berharap harga
tetap stabil. Pada dasarnya jumlah produksi tidak begitu signifikan berkurang
atau bertambah, karena di satu sisi ada yang berkurang dan di sisi lain ada
yang bertambah,” pungkasnya. (Kriz)